top of page
  • Writer's pictureGA

Hari Peduli Sampah Nasional, Kenneth Minta Pemprov Bikin RDF di Setiap Kota Administratif

Updated: Sep 18, 2023


Hari Peduli Sampah Nasional 2023 adalah hari nasional yang diperingati pada tanggal 21 Februari 2023. Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) di rasa masih sangat penting dalam rangka meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap sampah, karena persoalan sampah mempunyai dampak yang sangat berpengaruh terhadap kelangsungan kehidupan manusia.


Untuk di Jakarta sendiri, setiap harinya menghasilkan sampah sebanyak 7,2 ton. Hal itu berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta pada 2021. Sampah organik menjadi jenis sampah dengan volume terbanyak.


Menanggapi hal tersebut, Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDI Perjuangan, Hardiyanto Kenneth meminta kepada Pemprov DKI Jakarta yang saat ini dipimpin oleh Penjabat Gubernur DKI Jakarta, Heru Budi agar bisa membuat program penanganan sampah dengan cara kreatif dan inovatif.


"Data BPS DKI pada 2021, perharinya warga Jakarta bisa menghasilkan 7,2 ton sampah dan sampai tahun 2023 tidak ada pengurangan tonase sama sekali. Berarti permasalahan sampah ini sudah menjadi salah satu isu yang serius dan tidak bisa di anggap main-main. Karena itu saya berharap Pak Heru harus benar-benar berani dalam membuat suatu terobosan yang kreatif serta inovatif dalam membuat program penanganan sampah ini. Karena hingga saat ini persoalan sampah di DKI Jakarta tidak pernah selesai dan tidak ada solusi," kata Kenneth dalam keterangannya, Selasa (21/2/2023).


Pria yang akrab disapa Kent itu pun menyayangkan proyek pembangkit listrik tenaga sampah atau Intermediate Treatment Facility (ITF) Sunter yang saat ini tersendat, lantaran banyak melibatkan stakeholder.


"Kalau kita mengacu kepada Perpres No 35 Tahun 2018 terkait Program ITF ini akan melibatkan banyak stakeholder, permasalahannya ujung-ujungnya jadi selalu tidak bisa terlaksana, karena terbentur oleh banyak kepentingan," ketus Kent.

Alangkah baiknya, sambung Kent, terkait pembangunan program Landfill Mining dan Refused Derived Fuel (RDF) Plant di TPST Bantargebang yang direncanakan akhir Februari ini bisa beroperasi dan bisa mengelola sampah 2 ribu ton perharinya, bisa menjadi contoh supaya bisa segera di laksanakan secara serentak untuk di bangun di setiap Kotamadya, agar semuanya tidak menumpuk di satu Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), Bantargebang, Bekasi.


"Pembangunan RDF Plant ini bisa dilakukan secara serentak per-kotamadya, yang di rasa lebih relevan dan solutif dan kemudian untuk bentuk pendanaan bisa berupa bantuan dari CSR atau dari pemerintah pusat, supaya tidak perlu lagi mengandalkan dari APBD. Untuk RDF Plant yang di TPST Bantargebang kan mengelola 2 ribu ton sampah perhari, mungkin untuk di wilayah Perkotamadya bisa di bangun yang lebih kecil skalanya, mungkin dari 500 ton sampai ke 1.000 ton sampah dulu. Supaya TPST Bantargebang ini tidak menjadi satu satunya tempat tujuan pembuangan sampah, yang saat ini kita ketahui sudah overkapasitas, sudah lupakan program ITF yang tidak pernah terlaksana dan terkesan bertele tele, Jakarta sudah darurat sampah dan tidak bisa membuang waktu lebih lama lagi. Jadi saya rasa Program RDF Plant ini lah yang relevan dan sesuai dengan perkembangan zaman" beber Kent.



Comments


bottom of page